Duapuluhtiga

Aku tiba-tiba ingat Vega dan Ken. Apakah mereka pernah mengalami masa-masa seperti aku dan Chandra?

Oh, sebelum mereka bertemu lagi, Vega memang setengah hidup. Dia mematikan jiwanya karena tak ada Ken, dia sekedar hidup hanya untuk menunggu jawaban. Ketika jawaban itu datang, barulah dia memutuskan mati atau hidup sepenuhnya lagi.

Agak gila memang anak itu. Aku tidak pernah bisa memahami cinta Vega pada Ken, juga cinta Ken pada Vega.

Ketika aku baru mengenal Vega, dan mendengar kisahnya dari Aimee, kupikir itu kisah cinta paling gila, yang nggak mungkin ada di kehidupan nyata, tapi tetap saja, kuanggap romantis.

Sekarang, aku pun tetap menganggapnya begitu. Tapi sekaligus bingung, kenapa bisa seperti itu. Maksudku, kenapa kisah cintaku dengan Chandra tidak membara dan meledak-ledak? Apakah kami tidak normal atau mereka yang tidak normal? Ok. Aku tahu, setiap pasangan memiliki kisah cintanya masing-masing, romantisme masing-masing. Tapi tetap saja….

Ketika Ken tiba-tiba meninggalkan Vega…entah apa yang ada di pikiran Vega ya? Rasa dia? Ketika tiba-tiba tidak ada lagi yang bisa berbagi dengannya. Well, Chandra tidak menghilang, tapi Chandra juga tidak sepenuhnya ada.

Kami tidak punya cinta yang meledak-ledak, tapi aku kangen ledakan tawa Chandra yang malah lebih lucu daripada obyek yang jadi bahan tertawaan kami. Tawa yang membuat airmata kami berderai. Kami bahagia, meski bahagia tak selamanya, tapi kami bahagia dan aku puas.

Apa yang harus kulakukan? Aku mesti gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s