Sepuluh: Rindu yang Bergemerisik

Hai,

Aku tidak bisa menyampaikannya langsung ke kamu, aku tidak berani, juga terlalu gengsi untuk bilang, aku rindu.

Makin kutekan rinduku, ia makin mengembang, memenuhi ruang hati dengan ingatan akan kamu.

Makin tak ingin kuingat kamu, rinduku makin bergemuruh, berdebur-debur seperti ombak menghantam karam.
Mana aku bisa tahan?
Tapi aku tahan untuk tidak mengatakannya padamu.

Tapi, rindu sangat menggangguku, ia bergemerisik, berisik seperti dedaunan yang ditiup angin.

Tidakkah kau rasakan hal yang sama? Desiran halus di hati, yang berdenting ketika angin berhembus?
Sebab, aku hanya berani berbisik melalui angin, dan berharap ia menyampaikan rinduku ke kamu.

Ah, belum? Jika kamu belum mendengarnya, coba perhatikan sekarang baik-baik. Lalu, balas suratku ketika kamu telah mendengarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s