Tiga

Dulu, kupikir menikah tidak seperti ini. Iya aku tahu, menikah itu tidak selalu bahagia seperti cerita dongeng begitu, tapi tetap saja kupikir tidak seperti ini.
Kupikir kami akan selalu punya cinta yang bergelora, selalu bisa tertawa bersama dan…bisa bercinta dengan penuh gairah.
Iya, setahun pertama sih begitu, masih bisa cekikikan berdua, punya gairah yang selalu membara. Tahun kedua masihlah…bisa ditoleransi. Tahun ketiga…ya mulai berkurang, tapi yaaaa…begitu masih oke. Tahun keempat, mulai deh, cuek-cuekan. Berantem sih kagak, cuma ya mulai cuek, jarang cekikikan berdua lagi, karena Chandra mulai sibuk sekolah lagi. Dia mau jadi profesor katanya. Yaoloh…jangan terlalu pinter 'napa? Aku kan jadi makin minder. Tahun kelima, Chandra makin sibuk. Dia rasanya lebih lama menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah bersamaku. Ketemu bisa jadi hanya dua hari dalam seminggu, itupun tak lebih dari sejam, dan malah nggak tidur bareng. Seks? Halah, boro-boro. 

read more…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s