Cerita Pengembara Mimpi

Pengembara mimpi yang datang saat hari beranjak pagi, membawa cerita mengenai pohon-pohon.

“Suatu ketika, saat hanya ada pohon di kehidupan ini,” katanya memulai cerita, “belum ada dia, juga kamu.”

Saat itu, belum ada kata-kata untuk bercerita soal rindu, daun hanya bergemerisik untuk menyampaikan kelelahan hati akibat menunggu yang tercinta.

Dahan melambai untuk bercerita mengenai gundah.

Belum ada kata-kata, karena kata-kata memang lebih tak bermakna dibandingkan gemerisik riuh daun, lambaian gundah sang dahan, juga helaian daun yang melayang jatuh ke tanah dengan putus asa.

Gemerisik riuh namun tak ribut seperti setiap makian vokal dan konsonan yang kalian sebut sebagai kata; terangkai menjadi kalimat.

“Terkadang, kalimat kalian memang sangatlah indah, tapi tak sedikit kalimat kalian itu kejam lagi membunuh; terutama, membunuh kami,” kata Pengembara Mimpi dengan sedih.

Karena tak memiliki kalimat yang bisa membunuh, maka pohon-pohon selalu ada sejak awal kehidupan hingga kini mereka menaungi hidup kalian. Dia, dan kamu.

Pohon cinta, juga pohon rindu.

“Jika begitu, aku ingin pohon uang,” potongku cepat.

“Sssh…ketergesaanmu itu, membuyarkan ceritaku,” Pengembara Mimpi tersenyum, “pohon uang, hanya itulah yang selalu diteriakkan manusia setiap mendengar ceritaku mengenai pohon-pohon”

Wajarlah, kataku membalasnya, sebab di masa kehidupan yang sekarang, yang berbeda dengan masamu, kami memerlukan uang. Bayangkan, alangkah nikmatnya jika aku punya pohon uang di belakang rumah. Aku tak perlu bekerja, tinggal tunggu saja daunnya jatuh, lalu aku bisa berkeliling dunia. Aku bisa membeli apa saja tanpa berpikir panjang, sebab aku punya pohon uang.

Pengembara Mimpi terbahak, “yakinkah kamu, kamu bisa sabar menunggu daunnya jatuh? Aku berani taruhan, bahkan ketika pohon uang-mu baru bertunas saja, kamu sudah gatal untuk memetik kuncupnya”

Kalian; dia dan kamu, tercipta dengan kata-kata, juga kerakusan.
Itu sebabnya, aku harus mendatangi kalian sesaat sebelum matahari bersinar dan menguapkan embun di atas dedaunan, untuk bercerita soal pohon cinta, juga pohon rindu.

Pohon cinta dan pohon rindu, yang membuat kalian lupa untuk menyakiti si pohon uang.

Pohon-pohon, saling melindungi kaumnya.
Mereka tidak akan menggemerisikkan kebencian, hanya rindu. Mereka akan berbunga asmara. Dahannya yang tumbuh dalam kesabaran, akan berguna untuk menopang kalian.

Aku mengerjap takjub, “ceritakan padaku lebih banyak lagi”

(Pohon-Pohon)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s