kekasih yang tak pulang

Sayang, aku masih menyimpan kunci di tempat biasa. Tidak pernah aku simpan di tempat lain selama tigabelas tahun terakhir.

Kamu selalu terlupa membawa kunci. Bukan hanya sekali-dua kali kamu harus menungguku pulang sebelum bisa masuk rumah. Aku sering mengomelimu karena hal ini, “knapa sih kamu tidak mau membawa kunci sendiri? Kamu harus menungguku pulang, seandainya kamu bawa kunci, kamu kan sudah bisa istirahat sejak tadi”

“Maaf sayang, aku lupa”

“Lupa kok dipelihara, sering sekali kamu lupa bawa kunci”

Kamu hanya tersenyum lalu menciumku, tidak menanggapi kekesalanku, kamu malah menjawab, “itu sebabnya aku yang pelupa dan tak teratur ini bertemu kamu, aku perlu kamu”

“Kunci kutaruh di bawah pot sri rejeki,” kataku, “jadi kalau kamu terlupa, ambil kunci yang di situ ya”.

Kamu tersenyum, “kan… kan… lebih mudah seperti itu kan, daripada kamu mengomeli otak kapurku ini”.

Sayang, sampai kini, aku masih menyimpan duplikat kunci di bawah pot sri rejeki. Suatu ketika, tak lama setelah kamu tak pulang, tanaman itu tiba-tiba kering dan layu kemudian perlahan-lahan mati. Aku panik, berusaha membuatnya bertahan hidup karena aku takut kalau sri rejeki mati, kamu tak bisa menemukan tanda di mana aku menyimpan kunci rumah.

Seorang teman berkata, “mungkin itu tanda, dia telah meninggal”. Mungkin ia benar, tapi aku tak suka ia mengatakannya seperti itu, aku memutuskan untuk tidak menganggapnya teman lagi, dia hanya kenalan sekarang.

Sayang, hampir tiga belas tahun berlalu. Banyak yang telah kamu lewatkan, dunia yang kita tinggali telah banyak berubah. Makin banyak pula rambut putih di kepala ibumu. Meskipun demikian, ingatanku tentang hari terakhir aku melihatmu, tak berubah.

Kamu pergi terburu-buru pagi itu, “Cinta, aku pergi duluan, aku tak bisa mengantarmu ya pagi ini… mungkin aku pulang malam sekali”.

Itu hari terakhirmu hampir tiga belas tahun yang lalu. Semua teman dan kenalan selalu bertanya, “ada firasat nggak, bahwa dia tak pulang lagi?”

Ah, entah. Jika keteledoranku lupa membeli gas hari itu sehingga nasi yang ditanak tak sepenuhnya matang, ya mungkin aku memang mendapat firasat. Tapi tidak. Tidak ada burung gagak yang meneriakkan kesedihan, tidak ada gelas yang kujatuhkan lalu pecah, tidak ada gigi yang tanggal dalam mimpi. Tidak ada.

Aku yang tak mengerti apa-apa soal ideologi, hanya bisa berpesan padanya, “hati-hati, usahakan untuk cepat pulang”

Kamu tidak pulang malam itu. Kupikir, sedang ada masalah sehingga kamu perlu tinggal lebih lama, tetapi kamu juga tak menelpon Baiklah, kupikir memang situasinya sedang genting.  Terjadi penembakan di Trisakti. Aku khawatir namun juga tidak, kamu sudah pernah melewati yang lebih buruk dari itu.

Keesokan harinya kamu juga tak pulang. Dan kusangka kamu akan lama tak pulang, karena ketika aku pulang hari itu, dua orang berambut cepak datang menanyakanmu.

“Suami saya tidak ada, sejak kemarin belum pulang” kujawab begitu.

Aku tahu, mereka pasti percaya padaku. Karena aku percaya, mereka telah mengamati kita, jauh sebelum kamu tak pulang. Mereka tahu, kamu menjauhkan aku dari segala kegiatanmu. Ketidaktahuan akan menyelamatkanmu, begitu katamu dulu.

“Jika anda bertemu suami saya, tolong antarkan dia pulang” kataku pada dua pria yang mencarimu. Mungkin sia-sia, tapi memang itu yang ingin kukatakan.

Tidak ada yang mengantarmu sampai hampir tiga belas tahun, pun kamu tak juga pulang.

Aku mencari. Aku tetap berharap, meski semua berkata, “ikhlaskan, jangan buang waktu untuk mencari apa yang tak bisa kamu dapatkan”.

Sayang, aku tahu kamu tak pernah ingkar janji, padaku, juga pada ibumu. Dunia di sekitar kita sudah berubah, sayang, tapi sinar mata kami tak pernah berubah, tetap mengharap kamu pulang.

Sayang, jika kamu pulang dan tak ada yang membukakan pintu, ambil saja kuncinya di bawah pot sri rejeki.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s