Pesona Kain Nusantara: Amazing Geringsing

Kain tradisional Bali, yang dibuat dengan teknik tenun ikat, dikenal banyak berasal dari Singaraja di Bali bagian utara, bahan yang digunakan adalah serat sutra. Namun pada beberapa wilayah, ditemukan penggunaan katun, salah satunya yang ditenun di wilayah Nusa Penida.

Yang paling terkenal dari kain tenun Bali adalah kain Geringsing yang diproduksi di desa Bali Aga – Tenganan, Bali. Yang membuat kain ini menjadi unik adalah teknik ikat pada kedua benang lusi (panjang kain) maupun pakan (lebar kain). Biasanya pada pembuatan kain tenun, hanya satu bagian benang, kebanyakan bagian pakan saja yang diikat. Seperti pada proses pembuatan tenun ikat yang lain, teknik pengikatan ini dimaksudkan untuk membuat motif pada kain. Jadi dapat dibayangkan, bahwa diperlukan ketelatenan dan ketelitian yang sangat tinggi untuk pembuatan kain tenun dengan teknik dobel ikat ini. Kecermatan untuk memasangkan motif supaya ketika kain diwarnai*, dapat menghasilkan motif yang diharapkan. Tenun dobel ikat ini, hanya dikenal di beberapa wilayah Jepang, India, Guatemala, dan di Indonesia hanya ditemukan di Tenganan, Bali. Konon, teknik tenun dobel ikat ini, diadopsi oleh masyarakat Tenganan dari India, karena di wilayah Gujarat juga ditemukan teknik yang sejenis.

Fungsi religi pada kain Geringsing lebih kuat dibandingkan fungsi sebagai pelindung badan. Karena pada masa lampau, kebiasaan masyarakat Bali lazimnya tidak menggunakan penutup dada. Meskipun mereka juga memiliki baju tradisional kebaya. Jika ada upacara tertentu, barulah masyarakat berhias diri, kain kemben digunakan pada wanita bukan untuk menutup dada, namun untuk mengangkat dada agar terlihat indah.  Kain Geringsing ini ditenun oleh masyarakat Bali Aga salah satunya adalah untuk menolak penyakit. Kain geringsing berasal dari kata gering yang artinya sakit atau penyakit. sing artinya tidak ada. Jadi kain geringsing berfungsi untuk menolak penyakit dan desa Pagringsing adalah salah satu desa yang mempunyai kiat untuk menolakpenyakit lewat kain geringsing tersebut.

Bahkan, konon ceritanya, ada kain Geringsing yang diwarnai menggunakan darah manusia, untuk menciptakan warna merah – hitam berkarat. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan pengorbanan dan diharapkan dapat menjadi tumbal untuk terbebas dari penyakit. Entahlah, benar atau tidaknya cerita itu. Yang jelas, seperti pada umumnya pewarnaan kain tradisional sebelum masa industrialisasi, warna bisa dihasilkan dari bahan alam, misalnya warna merah yang didapat dari akar mengkudu, sementara hitam didapat dengan merendam kain dalam minyak kemiri yang dicampur dengan abu kayu dan alkali.

Pada umumnya, kain Geringsing memiliki tiga warna dasar yaitu putih (atau putih tulang) yang menggambarkan angin, hitam yang menggambarkan air dan merah yang menggambarkan api. Sesuai dengan penggambaran karakter dewa Brahma, Wisnu dan Siwa. Namun Geringsing juga dikenal dalam dua pembagian warna, yaitu Geringsing Selem (Geringsing Hitam) dan Geringsing Barak (Geringsing Merah).

Geringsing Selem, didominasi oleh warna hitam dan putih, sementara warna merah hanya nampak pada bagian ujung saja. Sedangkan pada Geringsing Barak, nampak tiga warna putih tulang, hitam dan merah sama-sama mendominasi. Kain Geringsing juga dibedakan menurut ukurannya, kain Geringsing dengan ukuran paling besar, disebut Geringsingan Perangdasa yang memiliki pola ragam yang lebih lebar. Geringsing ukuran sedang disebut Geringsing Wayang, dan di bawah itu ada Geringsing Patlikur. Untuk ukuran yang paling kecil adalah Geringsing Sabuk, Anteng dan Cawat.

Untuk motif, kain Geringsing mengambil motif dari flora dan fauna yang distilasi, pada tengah kain motif yang paling besar lalu berulang hingga ke tepian kain.

Seperti yang sebelumnya saya posting di sini

Update 31/01/2013:

*Di artikel ini saya mendapat informasi yang salah, bahwa kain diwarnai setelah ditenun, sebenarnya yang terjadi adalah, benang diwarnai sebelum ditenun. Ini makin membuat saya ternganga, bagaimana bisa hal yang sedemikian rumitnya dikerjakan secara tradisional? Motifnya sudah jadi bahkan ketika masih berupa benang.

Saya terbiasa melihat kain yang ditenun dengan mesin, juga terbiasa berinteraksi dengan pola tenun kain secara moderen, peralatan yang canggih sangat membantu kami, dan penenun tradisional ini bekerja dengan alat yang seadanya dan imajinasi di kepala saja. Hebat banget. Salut kepada para pengrajin tenun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s