David VS Goliath

Sebenarnya, sudah beberapa hari ini saya ingin menyuarakan juga, apa yang sudah mengganggu saya, ya, soal Ibu Prita ini. Soal dia yang dituduh mencemarkan nama baik RS Omni International Tangerang, kemudian dijadikan tersangka dan kini sudah sekitar 3 minggu menjadi tahanan titipan di LP Wanita Tangerang. Kasusnya sendiri, akan mulai disidangkan Kamis, 4 Juni 2009.

Semenjak ‘mendengar’ kasus Ibu Prita dari tweet Ndoro Kakung, saya baru sempat googling hari ini, lhah maklum, saya kan sok sibuk😛 dan baru menemukan email yang menjadi awal dari semua ini. Baca saja di sini.

Ketika saya membacanya, saya memang menangkap kekecewaan yang sangat besar terhadap layanan yang diterima oleh Ibu Prita. Wajar, sebagai konsumen/pasien yang telah membayar dan merasa dirugikan (baik berupa materi, juga kesehatannya), Ibu Prita mengungkapkan kekecewaannya. Dalam email yang kemudian dikirimkan ke milis, Ibu Prita menuliskan telah menghubungi management dan tindakan ini (menuliskan email) dilakukan karena sudah lelah dengan proses berkepanjangan dari RSOI yang tidak memberikan solusi.

Eeeeniwei… saya tidak dalam kapasitas untuk mengartikan satu persatu arti kata-kata yang tersurat dalam email tersebut. Saya menulis ini di blog saya, untuk menyampaikan keprihatinan saya, juga melepaskan apa yang mengganjal di benak saya.

Saya setuju sekali dengan apa yang disampaikan Paman Tyo, ini ‘hanya’ masalah komunikasi. Bukankah ada solusi yang lebih Indonesia, yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat? Mari duduk, ngopi ngemil pisang goreng, sambil ngobrol temukan dimana simpul itu mengganggu dan uraikan simpulnya, pecahkan masalahnya, temukan solusinya.

Benarlah adanya, bahwa negara kita adalah negara hukum, jadi apapun juga bisa diperkarakan secara hukum, perdata maupun pidana; tapi bukankah dasar negara kita adalah Pancasila? Yang itu tadi, mengandung butir-butir pengertian musyawarah untuk mencapai mufakat.

Saya kurang tahu, apakah pihak RSOI sudah melakukan upaya untuk bertemu dan menjelaskan dengan baik kepada Ibu Prita dalam menanggapi email yang tersebar di milis atau belum (selain tindakan membalas posting di milis & di surat pembaca, kamsud saya), jika belum, alangkah sayangnya. Lagi-lagi setuju dengan Paman Gombal (duuh Paman, ada yg suka membeo), ada faktor biaya yang bisa diefisiensikan dengan tindakan sederhana, macam ngobrol sambil minum kopi ini. Juga lebih elegan. Tindakan yang sekarang ini, kok kesannya malah seperti membunuh nyamuk yang hinggap di badan dengan peluru, ya nyamuknya kliyengan, tapi yang punya badan juga kliyengan. Berlebihan dan terlalu beresiko. Apalagi di era sekarang, dimana semua orang bisa menyampaikan apa saja lewat fasilitas internet; ada blog, microblogging, social media, dll. Oke, ada UU ITE memang, namun, tekanan masyarakat, situasi apa saja yang bisa dijadikan isu politik; yang bisa memicu hal-hal yang diluar perkiraan RSOI, ini tindakan yang membahayakan sebenarnya bagi RSOI.

Saya yakin, sebelum melakukan tindakan hukum, pasti RSOI sudah mempertimbangkannya masak-masak, namun apakah reaksi yang sekarang ini juga sudah diperkirakan?

Oh… tidakkah kita belajar, bahwa di negeri ini, yang ‘tertindas’ akan selalu mendapat sms terbanyak?

Dukungan yang sangat besar untuk Ibu Prita, saya syukuri sekaligus membuat saya takut. Jangan sampai ini menjadi boomerang untuk generasi 2.0. Jangan sampai ini membuat kita lengah dan merasa bebas untuk mengatakan apa saja dengan mengabaikan kode etik; karena merasa, toh nantinya kalau ada apa-apa, akan ada yang men-support. Well, saya mulai oot deh… maaf, tapi ini benar-benar mengganggu saya juga.

Peran teman-teman blogger, dalam menyebarluaskan berita ini hingga mendapat perhatian yang selayaknya, sungguh sangat besar. Sehingga, kalau saya berpikir tentang Ibu Prita, maka saya langsung teringat dengan ‘kekuatan blogger’. Blogging for Society, yang menjadi tema pesta blogger 2008, maknanya menyeruak kembali. Ya, mari kita gunakan ‘kekuatan’ ini dengan sebaik-baiknya.

Kembali ke Ibu Prita, sabar ya bu… jangan khawatir, kami semua mendukung anda. Kebebasan anda adalah target kami, karena kebebasan anda berkaitan dengan kebebasan menyampaikan pendapat, juga mendengar pendapat, termasuk menyikapinya dengan dewasa.

Bukan berarti saya ingin ‘nggebuki’ RSOI *minjem bahasa salah satu komen di posting Politikana*, tapi saya menghimbau RSOI, untuk mempertimbangkan lagi langkah yang telah diambil. Sebagai institusi yang bergerak di bidang kesehatan yang dekat sekali dengan subyek (rasa) kemanusiaan, saya yakin, rasa anda terhadap kemanusiaan bisa membimbing anda untuk mengambil solusi yang lebih tidak merugikan.

Update: ketika sedang menulis posting ini, lagi-lagi, membaca tweet Ndoro Kakung, JK sudah memberikan SP3 untuk menangguhkan penahanan Ibu Prita. Semoga awal yang baik.

Semoga, kasus ini selesai dengan baik. Semoga.

P.S. Tiba-tiba, saya ingin menulis ini: bahasa itu cuma masalah rasa. Yang tersirat tidak selalu yang tersurat, tapi carilah yang tersirat itu melalu yang tersurat. Rasakan makna dari email Ibu Prita, saya yakin RSOI bisa merasakannya.

5 thoughts on “David VS Goliath

  1. Nicely said!! Sekarang negara dan generasi semua bergantung kepada individu untuk menggunakan ‘kekuatan’ sebaik-baiknya.

    RSOI mungkin puas memasukan ‘musuh’ ke penjara. Tapi kepuasan sementara, bukan? Surat komplain itu akan selalu menghantui.

    Sedangkan kalau duduk ngopi sambil nyomot pisang goreng, lalu diklarifikasi Ibu Prita bahwa sudah damai, segala pihak sudah saling meminta maaf dan memaafkan, masyarakat pun bisa ikut ngopi dan makan pisang goreng di kantin RSOI *if you know what I mean*

    dan sekarang, gue jadi pengen pisang goreng, Tjeeep..

    But seriously, I don’t think Ibu Prita deserved this, so I support her too😉

    i know Gil… itulah kamsud gw, toh si RSOI kan juga perlu pasien toh, pasien juga perlu rumkit… masa sih gak bisa ngobrl baik2 gitu…
    untung gw gak tau, ada makanan enak apa gak di kantin RSOI… hehehehe
    sate di apa tuh RSPI ato RSPP sih… kita blm sempt kesana yak… next time klo lo balik yuuuk… hehehehe

  2. pisang kejepit juga enak om, wekekek😀

    ini tante ya… bukan om…
    dan ngobrol2… saya serius loh ini… bukankah kalo perut kenyang, org jadi lebih mudah diajak ngomong karena esmosi tidak terlalu sensitip *halah*

  3. setuju “tante”… harusnya permasalahan ini diselesaikan dengan lebih “Ngindonesia”.. sambil ngupi2 dan ngemil pisang hoeng..
    hmm…
    *pergi beli pisang goreng*

    hanaaas…hisang hoengna…hanaas…:mrgreen:
    iya bijituuu….

  4. bahasa itu cuma masalah rasa. Yang tersirat tidak selalu yang tersurat, tapi carilah yang tersirat itu melalu yang tersurat. Rasakan makna dari email Ibu Prita, saya yakin RSOI bisa merasakannya.

    Saya suka bagian ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s