setiap melintasi awan

Setiap melintasi awan, menatap batas langit, aku selalu berharap bertemu kamu. Pujaan hati, yang entah siapa. Kekasih jiwa yang belum terpasangkan.

Aku selalu membayangkan, ketika aku bertemu kamu, seperti apa rasanya. Bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu adalah yang memang benar-benar kucari, yang memang benar-benar diciptakan untukku?

Aku mempercayai konsep bahwa, kita memang tercipta untuk satu dengan yang lain. Mungkin kita telah bertemu. Mungkin kita telah berpapasan. Mungkin juga kita telah bersenda gurau bersama. Tapi kita belum menyadari bahwa aku untuk kamu dan kamu untuk aku.

Bisa juga, aku dan kamu memang belum bertemu sama sekali. Belum pernah berpapasan.

Aku juga mempercayai dongeng yang sedikit bodoh bahwa jodoh, terikat tali merah pada kelingkingnya. Pada waktunya masing-masing akan menyadari, kelingking siapa yang terikat pada kelingking siapa.

Hanya saja, aku sulit membayangkan bahwa aku akan terikat sampai sisa akhir hidupku hanya dengan kamu yang belum pernah aku tahu sebelumnya. Mempercayakan hatiku, mengabdi dan setia pada kamu. Hmm… sedikit menakutkan untukku.

Dan aneh saja… bagaimana bisa? Dengan rumus eliminasi manakah hal itu bisa dijabarkan?

Karena itu, aku sangat penasaran ingin bertemu kamu.

 

Ketika aku bertemu kamu, seperti apa rasanya? Bagaimana aku tahu itu benar-benar kamu?

 

Ah…ya… aku cuma sekedar gelisah membayangkan kamu.

Membayangkan kita. Ketika aku bertemu kamu, kamu bertemu aku, bagaimana perasaan itu bisa melebur menjadi satu, menjadi kita. Aku yang satu tetapi dua, dua yang tetapi satu.

Aku sangat penasaran.

Oh, tentu saja… aku juga menganut prinsip, segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan sekedar ucapan klise di mulut, tapi Hidup telah mengajarkan banyak hal yang membuatku percaya bahwa Hidup memiliki waktuNya sendiri. Aku percaya.

Aku sedang gelisah? Ya.

Aku sedang merengek-rengek? Tidak.

Aku sedang bergairah? Ya.

Aku tak sabar? Ya.

Aku sedang memaksa Sang Waktu? Hmm… tergoda untuk melakukannya, namun aku tak berani. Biarlah Sang Waktu dengan ukuranNya, aku hanya sedang bermain-main dengan Ken, si homusculus abadi.

 

Yaah… apa boleh buat kalau ini akhirnya aku tuliskan. Karena ketika sedang melintasi langit, terbang diatas awan, selalu membuatku berpikir seperti ini. Mungkin, ketika aku bertemu kamu, rasanya seperti terbang?

 

Siapapun kamu, aku tak tahu mengenai ukuran Waktu, aku tak tahu kapan ketakutan tiba saatnya disatukan untuk menjadi sebuah keberanian, tapi aku tahu, kamu juga sedang mencari aku. Setidaknya, kita telah satu ide dalam hal ini.

 

Semoga, aku segera bertemu kamu, kamu bertemu aku, dan yang penting kita bisa saling tahu.

 

Ditulis buat kamu ketika aku sedang terbang melintasi kotaku. Juga merupakan cerita gambar ini.

2 thoughts on “setiap melintasi awan

  1. Ele ele … Jatuh cintrong loe haha, ga kuku deh. Kl dr isinya, rasa2nya untuk si manusia gunung yah haha

    kagak Jen… itu mah menye2 karena liat awan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s