menjelang setahun di jakarta

OK. It is official now.
Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri *penting ya bo, detailnya diceritaken?!*. Jadi, aku akan tinggal sekitar sebulan untuk beres-beres apa yang mesti aku bereskan di kantor lama. Dan, pertengahan bulan depan, aku bergabung dengan kantor baru. Masih di industri tekstil, hanya beda job des. saja. Pekerjaan baru, menurutku akan lebih sesuai dengan bakat dan keahlian juga interest aku. Ini benar-benar pencapaian yang menyenangkan, kalau belum bisa dibilang kenaikan:mrgreen: *halah apa sih?!*. Aku akan lebih berkutat dengan proses kreatif, baik secara grafis maupun tulis menulis. Membayangkannya saja seru. Secara finansial, emh… sudah tidak terlalu menjadi pertimbangan. Aku menyukai pekerjaannya, yang mana aku merupakan orang pertama yang mereka pekerjakan untuk posisi ini, aku juga menyukai orang-orang di lingkungan kerja baru dan dengan siapa aku harus bekerja, daaaan…. aku kembali ke Bandung! Pasti kerja keras dan cape banget, tapi aku juga membayangkan serunya, fun-nya…. aaaah… tak sabar.

Di posting sebelumnya, aku juga menyatakan ini sebagai proses pendewasaan juga. Lhoh kok bisa gitu?! Iya, menurutku begitu. Jadi, bejini… aku sudah bekerja di perusahaan yang sekarang selama lima setengah tahun. Mungkin memang aku karyawan loyal, tapi aku juga punya beberapa pertimbangan mengapa aku tetap tinggal selama itu, salah satunya adalah ‘hasrat untuk membalas dendam’. Logika-ku yang masih senang tinggal di area belum dewasa, menganggap bahwa merupakan suatu kedewasaan dalam profesi jika aku meninggalkan pekerjaanku dalam kondisi puncak, bukan dalam kondisi terpuruk. Aku terlalu berhasrat untuk menunjukkan kemampuan, terlalu fokus pada label ‘ingin menjadi yang terbaik’. Dan, setelah pindah ke Jakarta, demi menyelamatkan ego-ku, aku belajar bahwa seorang pemenang tidak selalu menjadi yang terbaik. Hmm…. pengertian yang sesat😆
Selain itu, menerima pekerjaan baru ini juga berarti meninggalkan comfort zone yang mulai membuai. Yaah… memang, aku banyak ngomel dan menyampah soal pekerjaanku. Tapi aku masih saja tetap tinggal, karena menganggap, apapun yang terjadi, aku tahu bahwa aku selalu aman. Semua tindakan yang selama ini kupikir kulakukan untuk menyelamatkan karir dan posisiku, tidak lebih dari tindakan putus asa untuk menyelamatkan ego. Sebelum ini, ada beberapa tawaran juga, namun tak kuambil untuk alasan yang kubuat meyakinkan diri sendiri. Nggak bisa kusesali juga sih keputusan waktu itu.

Karena menurutku semua itu proses.

Dan juga WAKTU.

Memang, prosesnya harus seperti itu untuk aku memahami, bagaimana menjadi pekerja yang tidak sekedar profesional namun juga matang pohon *halah*. Mengakui kesalahan juga. Thanks to si bapak senior yang sudah sangat menyebalkan, namun membuat aku berpikir, sampai dalam mimpi pun aku berpikir soal ini.:mrgreen: Proses ini melelahkan namun juga menyenangkan, karena aku mencapai tingkat yang kuanggap lebih tinggi lagi dalam bersikap juga bertindak. Semoga.

Hidup. Mari kita rayakan.

9 thoughts on “menjelang setahun di jakarta

  1. bo,
    kamu resign gara-gara karyawan senior itu yah? hehehe…

    btw, berapa gajinya?
    khan ga penting2 amat, kasih tau dong jeung…

  2. weits, it’s official nih?😀 selamet ya bebeeeeeee!! bangga gue tjep, lo berani ngambil keputusan kayak gini. ninggalin comfort zone lo, nerima tantangan baru yg blom pasti. tapi yg gue gak sukanya ya nek, elo pindah ke bandung! huwaaaa *mewek*

    harus janji sering2 main ke jkt ya tjep! kalo ada gath kudu ikut ga mo tau😀

    gutlak cintaaa!

  3. karena error mulu ngejawab komen satu demi satu, ga papa ya borongan di-dieu
    @Tukang Ketik, nggak… gw ga resign gara2 karyawan senior, dese malah berjasa bikin gw mikir & mengakui bahwa gw motipasi gw salah. dia cuma memainkan perannya ajah… sutralah… ktr selalu bijitu… dan sapa bilang gaji gak penting? gw bilang tdk terlalu menjadi pertimbangan… itu berarti….:mrgreen:
    @Mer, tengkiuuuuu…. nanti klo jij pulang lagi ke dayeuh, kita party di bu imas yuuuuk….. pakai pete goreng
    @Ngellz, waaaa…. dimana? pm… pm…
    @Venus, padahal belum pernah ketemu ratu kopdar….
    Tinker, jelaaaaasssss itu neeek…. apa artinya gw tanpa kalian…. *lebay*

  4. ahhhhh tjepihhhh…congrats on ur new job yah jenkkk.
    nantiii kita ktemu2an yahh di bandunggg…mari kita wisata kuliner😉

    tengkiu Rantjee….. jelas…. nanti klo ke bdg, kita ke pecel lele itu yaaa…. hihihihi

  5. baik bandung??? hua…. jadi kehilangan temen buat wisata kuliner di jkt dong😦

    errrr…. tenang…. ai masih sering jalan ke jkt koook…. jadi sebelum gw pindah, nasi uduk?!

  6. Kata nyokap gue “Yang nggak-nggak aja si Tjetjep pake pindah ke Bandung!!”
    Yah Tjep.. kalo lo pindah ke Bandung, siapa lagi yang nganterin gue cruisin’ di sudirman, senopati dll dst??
    But eniweis, gue juga udah nggak di sini lagi.. jadiiii sebulan iniii kesempatan terakhir kita berduaan yak hiks hiks..
    Ehh ada nasi goreng tuhh.. gue simpen yak buat nanti elo di Bandung, biar ada alesan ke Jakarta hihhii.. ‘canda!!

    itu yg gw perluin Gil, alasan buat ke jakarta….. hiahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s