baik… baik… baaaiiiiiik…

Semua orang pengen dibilang orang baik, kayanyaaa sih… Aku dulu juga begitu, ngotot banget buat jadi orang baik, jadi orang yang selalu diterima di pergaulan. Itu waktu aku masih mudaaa. Untungnya, nggak sampai memaksakan diri mati-matian buat jadi orang baik, cuma memang aku berusaha terlalu keras.
Lama kelamaan aku mulai menyadari bahwa, kebaikan yang aku maksudkan, tidak sesuai dengan kebaikan yang diinginkan oleh teman-teman di lingkunganku. Apa yang aku anggap sebagai bentuk keterusterangan, merupakan komentar nyinyir. Apa yang aku anggap sebagai bantuan ikhlas, berubah makna menjadi omong basa-basi. Tentu saja, ini sempat membuat aku, yang memang pada dasarnya tipe ‘suka-suka gue’ menarik diri secara drastis dari pergaulan dan menganggap semua manusia itu munafik dan buat apa berbuat baik sama orang lain? Toh, aku juga nggak perlu minta makan sama orang-orang itu. Hmm… itu sekitar periode aku SMP lah…. Namun hidup mengajarkan banyak hal yang mengakibatkan perubahan beberapa nilai yang kuanggap benar saat itu.

Dan ada juga nila-nilai yang tetap tidak berubah, seperti… aku tetap berkomentar terus terang sekaligus jujur, meski itu dianggap nyinyir.. :mrgreeen: apa boleh buat, nyinyir sudah menjadi bagian dari karakter. Bagiku, kebaikan adalah keterusterangan meskipun itu nyinyir dan nggak enak didengar, itu jauuuuuh lebih baik daripada kebohongan yang bersuara merdu juga berlumur madu *tsaaah*. Jelas, karena terkadang aku ‘nyinyir’ maka aku juga tidak berkeberatan untuk mendapatkan ‘balasan’ nyinyir darii orang lain.๐Ÿ˜† . Mungkin memang dia berkamsud baik atau memang beneran bermaksud nyinyir yang negatif. Aku tidak peduli. Aku percaya karma. Ucapan, perbuatan… itu seperti bumerang yang selalu kembali pada pelemparnya. Lagipula, bukankah hidup sudah mengajarkan, bahwa kebaikan itu relatif. Kebaikan itu, abstrak ukurannya, buat aku baik, belum tentu buat yang lain baik. Ya sudah. Tidak perlu memaksakan kebaikan yang seragam, menurutku. Kalau aku niatnya baik keterima tidak baik, ya maaf. Aku tidak hendak memaksakan tindakan baik harus selalu mendapat apresiasi baik.

Aduuh… ini kok seperti aku sedang membela diri ya? Hehehehe nggak ada apa-apa, nggak ada kasus apa-apa, ini aku cuma kepikiran sama kata-kata: baik. Seperti apa kebaikan, dan harus bagaimana untuk menjalankan kebaikan.
Tapi kebaikan saja tidak cukup untuk membeli surga juga bahagia, errr… lagi-lagi ini teori ngawurku. Emh, jadi inget Tante Kemang, “lo kate surga murah? Modal senyum doang?!”

Baiklah, daripada makin bingung, udahan aja aaaah…..

Tambahan, ini nih, pemikiran yang selalu bikin aku nggak kelar-kelar posting. Pemikiran tiba-tiba soal penggunaan kata baik dalam kalimat: baik, akan saya kerjakan – – saya kerjakan baik-baik — baiklah, saya kerjakan — errrrr….. aku dulu bolos kemana sih waktu pelajaran Bahasa Indonesia?

Baiklah, lebih baik aku mengucapkan selamat berakhir pekan sajah… terimakasih dan sampai jumpa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s