Bilangan Fu

Hari Minggu, 20 Juli 2008 kemarin, adalah launching novel terbaru Ayu Utami, yang berjudul Bilangan Fu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Novelnya sendiri sih sebenarnya sudah ada di toko buku sejak akhir Juni, malah malam itu, aku sudah selesai baca… hihihihi berasa penting, tamat baca pas ketemu sama pengarang idola *tsaaah* yaoooloh… tapi beneran lo, aku deg-deg-an… udah gitu, di acara itu banyak banget orang keren yang bikin aku nggak bisa ngomong, salah satunya FX Rudy Gunawan, huaaaa… padahal udah dikenalin sama temen dan tadinya mau ‘jualan’ The Patchwork…. tapi lidahku kelu tak bisa berkata-kata… ya sutralah…

Acara launchingnya kereeeen…. sumprita nggak rugi datengnya *ya iyalaaah*. Acaranya yang utama adalah pembacaan petilan novel Bilangan Fu oleh seniman Landung Simatupang. WOW!!!!! He was great! Sumprita, aku terpesona. Selain terspona oleh Landung Simatupang, aku juga terkiwir-kiwir sama Tomi Simatupang… hiahahahaha dasar!!! Eh, tapi ini serius, sepanjang acara pembacaan, aku memang konsentrasi pada pembacaan Landung, tapi pemandangan indah berupa Tomi Simatupang, yang duduk di area pemusik, sangat-sangat tidak bisa dilewatkan, apalagi ketika Tomi memainkan alat musik sitar. Dia tidak ganteng maaak… tapi dia seksi maaaak….. *sambil nyanyi-nyanyi dangdut* dan satu-satunya penyesalan terbesar malam itu adalah tidak menyapa Tomi Simatupang ketika acara ramah tamah seusai acara pembacaan. Sumpah aku nyesel! Aaaaa… harusnya aku sapa, basa-basi apa gitu ya…

Sutralah, back to Bilangan Fu.

Novelnya sendiri, berkisah seputar dunia panjat tebing, ada Yuda yang selalu bertaruh soal apa saja dan selalu menang. Namun, yuda menemu kekalahannya ketika bertaruh dengan Parang Jati. Sosok Yuda digambarkan sebagai pemuda bebas, yang semau gue, yang tidak pernah peduli pada keadaan sekitar, termasuk peduli pada wanita kecuali dia suka sekali menunjukan bahwa dia laki-laki yang perkasa. Yuda, saat itu memiliki kekasih bernama Marja, yang sebanding dengannya, dalam hal kekuatan. Hm… ini bermakna ganda. Berlawanan dengan Yuda, Parang Jati adalah sosok yang sangat terkontrol, sangat peduli pada dunia. Tidak suka suka berkonfrontasi kecuali jika itu berkaitan dengan alam dan mahluk hidup. Jati, Yuda dan Marja. Ada cinta segitiga. Hm… jangan berharap ada uraian jelas tentang Marja & Jati yang berselingkuh dari Yuda. Aku tidak menemukannya di bagian manapun. Ketiganya, saling menyukai dengan tulus, Yuda kepada Jati, Yuda kepada Marja, Marja kepada Jati, Marja kepada Yuda, Jati kepada Yuda dan Jati kepada Marja. Mereka adalah tiga partikel dalam sebuah atom, O3, mereka seperti ozon.
Dan aku jatuh cinta pada Jati, sejak semula tokoh ini muncul. Aduuuuh…..tapi Yuda juga lovable… jadi bingung deh… aku suka siapa… hiahahahahaha
Ceritanya, mengambil setting di pegunungan Watugunung, di bagian selatan pulau Jaw, yang dekat ke Yogya. Agak mistis, dan kata seorang teman novel Ayu yang ini cukup lucu… well, memang ada humor di sana-sini, tapi aku melihatnya sebagai ironi, lelucon dengan pesan serius. Ada monster ubur-ubur dan moluska yang kena rabies.
Akhir ceritanya bagaimana? Hmm… baca aja sendiri… nanti kalau aku jelasin disini malah jadi spoiler lagi….
Soal pemilihan kata-kata, aku lebih suka Saman, tapi Bilangan Fu punya daya tariknya sendiri.

Udaaah… sana beli ajaaa…..

8 thoughts on “Bilangan Fu

  1. siap2 meluncur ke inibukudotcom. thx, jeng..

    kmaren, pas aku minta ttd Ayu, barengan sama orang inibuku, katanya mau ada program buku yg ditandatangani tuuuh…. *penting ya tanda tangan pengarang?* hehehehehe

  2. “Novelnya sendiri, berkisah seputar dunia panjat tebing, ”

    >> rasanya bukan itu deh poin utamanya bilangan fu.

    setelah baca 3 bab pertama, inti dari bilangan fu adalah:

    1. seputar dunia panjat tebing itu, cuma kulitnya. Poinnya ayu itu lebih banyak soal kritik sosial, agama dan kemapanan.

    2. mengajarkan para penulis buku kalau kosakata bahasa indonesia itu masih banyak yang terbengkalai, dan ayu memanfaatkan melalui kepopulerannya untuk menghimbau para penulis menggali lagi kosakata yang jarang didengar.

    kira2 itu pendapat gue. Tapi, buku ini memang mantap sih…
    ga nyesel beli mahal2, hehehe

  3. @Tukang Ketik
    yup. lebih spesifik lagi, kritik 3M. udah baca sampai situ belum?
    tapi teteup, menurut gw, pondasi cerita ini adalah panjat tebing, sacred climbing tepatnya… bagaimana menaklukan tebing / gunung tanpa ‘melukainya’ namun memanfaatkan tekstur tebing / gunung itu sendiri.
    bagaimana berdialog dengan tebing / gunung hingga mencapai puncak, bagaimana kita berdialog dengan lingkungan untuk mencapai keharmonisan…*tsaaah* dan… Ayu sepertinya memang edan2an mencintai panjat tebing sekarang… badannya keren euy… karena banyak berlatih panjat tebing… errrr…..

    (ini entah kenapa gw error mulu klo mau reply komen kayak biasanya… jadi gini aja ah…*

  4. kalo blum punya di di khatulistiwa.net aja ya.. toko online ala Amazon gitu. diskon dan bebas ongkos kirim untuk jakarta.

    udin punya paaak… udiiiin kelar pun bacanya….. eh, tapi klo mau ngasih lagi yg gretong gak pa-pa juga… itung2 bayar biaya pasang iklan…. hiahahahaha

  5. bagi saya, yang paling penting dalam novel ini adalah: laku kritik, penundaan pengejewantahan kebenaran, dan terutama perilaku jangan sok suci….yeah…bilangan fu membangkitkan rasa lapar saya pada karya-karya lokal….

    tabik!

  6. “kalau penjahat itu memperkosa,sedangkan ksatria bersetubuh dengan cinta”

    kutipan dari bilangan Fu

    wow… memorable quote yak….🙂

  7. Ada berbagai macam ekspresi yang keluar kala membaca bab pertama sampai pungkasan Bilangan Fu. Dari sekedar senyum simpul , lalu meledak tawa, menyernyitkan dahi berpikir dan menganalisa, merenung, sampai menangis sedih tak terperi menahan haru, memikul geram hingga meledak tangis pada menit-menit menuju titik kalimat terakhirnya.

    Aku sempat mengakrabi dunia panjat, aku tumbuh dari lingkungan keagamaan yang kental menolak tahayul, tapi aku sendiri mempercayai apa yang disebut tahayul dengan diam-diam. Dan kini prihatin melihat menjamurnya kelompok2 model2 Farisi

    Ini novel seperti cermin sejumlah realitas apa yang terjadi di sekitar kita. Dan Ayu sungguh berhasil melukiskannya dalam kalimat yang indah. Aku jatuh cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s