Catatan Lama

Bapak Manusia Laut dan aku benar-benar  mencari masalah. Terlalu memaksakan diri untuk saling berbaik-baik hanya demi romantisme lama, kami pernah menjadi bagian satu dengan yang lain selama bertahun-tahun, hanya dia yang mengerti kegilaanku dan aku yang bisa mengerti ketakutannya, kami berbaikan demi cinta yang mungkin sudah menguap tanpa bersisa.

Dia menempatkanku pada pusat ‘badai’ lagi, kalau mau melaut, pergilah sendiri, jangan memintaku turut serta lagi, aku bukan manusia laut, aku anak ayam yang hanya bisa hidup di daratan. Ya memang, pasti aku akan merindukan kamu ketika kamu melaut tapi kamu kan memang manusia laut, jadi bisa apa aku? Cuma bisa menyampah.

Aku cukup terhibur dengan posting ini di blog lama, memang sebagian besar cerita adalah khayalan anak ayam, tapi beberapa bagian merupakan cerita tentang manusia laut dan aku.

Mendengar & berbicara dengan Tante Mel, secara mengejutkan, aku teringat buku harianku sekitar 5 tahun silam, ketika itu aku baru beberapa bulan pacaran dengan Ken, dan kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku menulis begini:-Aku dan Ken adalah dua pribadi yang dibesarkan dengan dua kebudayaan yang sangat jauh berbeda, mungkin terlalu kompleks, tapi kalo dibilang sekedar kebiasaan atau sekedar cara hidup… itu terlalu sederhana, ya memang begitulah. Kami memiliki pola pikir yang sangat bertolak belakang bahkan dalam menyikapi problematika kehidupan yang kecil dan remeh. Aku yang besar dengan orangtua tunggal, hanya seorang Ibu yang memutuskan unuk tidak menikah ketika suaminya meninggal, dalam usia yang sangat muda Ibu menjadi Ibu sekaligus Ayah sekaligus pencari nafkah keluarga. Aku anak tunggal yang memiliki kebebasan penuh untuk memutuskan segala sesuatu, karena memang sudah dibiasakan begitu sejak kecil. Ibu ada di rumah hanya pagi dan malam, seharian beliau ada di luar untuk bekerja, dan sejak aku bisa mengingat, seingatku, aku selalu melakukan apapun sendiri. Pembantu, hanya memasak dan mencuci, tugas yang tidak bisa dilakukan anak unur lima tahun. Aku punya jadwal yang dibuat oleh Ibu dan kuturuti dengan kepatuhan yang menakjubkan untuk anak seusiaku, bahkan sampai sekarang aku sering berpikir… aku hebat juga ya🙂 Aku tumbuh menjadi sangat mandiri dan egois. Sedangkan Ken, anak pertama dari lima bersaudara, meski sejak SMP kehilangan Ayah dan merubah dirinya menjadi penanggungjawab keluarga, tapi Ken bukan serta merta menjadi orang yang bisa memutuskan segala sesuatunya tanpa kerumitan. Njlimet. Dia terbiasa meminta pendapat, terbiasa memikirkan dulu adik-adik dan Ibunya, terbiasa ngalah. Dia jadi lupa bagaimana menikmati hidup. Kami selalu punya pendapat yang berseberangan tentang keluarga. Termasuk dengan cara pernikahan. Jadi apa yang bisa mempertemukan kami, jika kebudayaan kami berbeda, tidak ada sedikitpun kesamaan yang menjembatani. Dan setelah berusaha mencari titik temu, kami tidak bisa menemukannya? rumus apakah yang dapat mengeliminasi perbedaan – perbedaan kami? Maka, memang lebih baik kami berspisah.
Jadi, setelah bercakap-cakap dengan Tante Mel, aku membaca lagi uraian yang rumit di buku harianku itu. Lucunya, aku ingat betul saat itu aku sangat ingin berpisah dengan Ken karena ‘kebudayaan’ itu tadi, dan ternyata sampai hari ini, lebih dari lima tahun kemudian aku masih bersama Ken.
Jadi, rumus apakah yang dapat mengeliminasi perbedaan – perbedaan kami? jawabnya cinta. Tapi apakah cinta saja cukup untuk menjawab seribu pertanyaan lain yang membayangi pernikahan kami yang akan berlangsung beberapa bulan lagi?
Terus terang, aku sangat takut & khawatir dengan rencana pernikahan ini.

Untung kami belum jadi menikah, hiks…😀 lhoh kok jadi mellow gini?

Ah, sudahlah…

One thought on “Catatan Lama

  1. Jadi, rumus apakah yang dapat mengeliminasi perbedaan – perbedaan kami? Hati!
    Tanyakan sama hatimu yang paling-paling dalam..
    Aku juga mengalami hal yang sama dulu, kebudayaan yang bertolak belakang (Chinnese & Minang.. kebayang gak?) tapi udah 11 tahun menikah sih, masih tenang-tentram aja

    hati dan logika kemudian sepakat untuk mengakhirinya kak, wah… urusan cinta, hati, logika terlalu rumit buat otak segede upil milik anak ayam ini…
    Semoga, dirimu selalu tenang dan tenteram ya… penting itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s