Legenda Cinta dan Bebek Goreng

‘The journey of duck – most wanted & garingable’ belum berakhir, aku dan teh Nono masih berkeliling Bandung bersama miu-miu. Semalam, perjalanan kami kembali ke titik awal dimana kami memulai ‘petualangan’ ini, yaitu Bebek Van Java di daerah Cikapayang. Bebek Van Java menjadi cinta pertama kami karena sambelnya yang puuueeeedes, nasi yang pulen, bebek gorengnya yang garing (jauh lebih garing daripada bebek goreng di tempat aku bertemu orang yang menanyakan nomer hpku) dan pelayanan yang ramah, selayaknya cinta pertama, kami kemudian selalu membandingkan rasa bebek, rasa sambel dan kepulenan nasi di setiap warung bebek yang kami kunjungi dengan cinta pertama kami. Dan ujung-ujungnya, kami akan selalu berkata, wah, kok enakan yang di Bebek Van Java ya… dan ini membuat keesokannya kami pergi ke Bebek Van Java lagi. Semalam, saat kami ‘bernostalgia’ dengan cinta pertama, sebab kami sedang kehabisan ide mau ke warung bebek yang mana, ada seorang pengamen puisi (lebih baik aku sebut begitu, karena ia tidak menyanyi tapi membawakan monolog puisi sebagai ‘komoditasnya’) ia membawakan monolognya dengan suara lantang agak cadel dan serak, mungkin karena kebanyakan berteriak, nada dan intonasi bicaranya pun cepat, kata demi kata mengalir silih berganti, berulang dan terulang. Kami tidak terlalu mengerti sebenarnya apa yang pengamen itu katakan, hanya sepotong-sepotong yang terdengar dan terekam, kurang lebih yang kuingat seperti ini:
Aku ini orang gila yang merasa,
gila karena rasa luka,
cinta yang terluka…
jika rasa itu memang cinta mengapa harus luka…

Aku dan teh Nono, berpandangan penuh arti dan bibir kami menyimpan tawa yang tidak bisa meledak, karena takut menyinggung perasaan pengamen itu dan ketika dia pergi kami langsung terbahak. Bukan karena melecehkan, tapi lebih karena cara dia membawakan monolog, dia berakting kocak dan berlawanan dengan isi puisi yang serius, juga karena kami memang merasa kami pernah gila karena cinta. Dan untuk menertawakan diri kami juga, aku berkata pada teh Nono, “wah, memangnya orang gila benar-benar bisa merasakan sesuatu ya? Kalau dipukul dia akan merasa juga nggak ya? Kayanya, meski kita pukul duluan, sepertinya dia nggak akan membalas ya, tapi masalahnya, sebelum kita mukul dia, kita sudah dipukul duluan” dan kami terbahak lagi. Di jalan, kami masih membahas hal itu danaku jadi berpikir lagi tentang gila karena cinta, aduh, ketika gila memangnya aku bisa jatuh cinta gitu? Mungkin masalahnya adalah, sebelum gila aku jatuh cinta duluan… nah… nah… Dan setelah tersenyum karena pemikiran itu, tiba-tiba saja aku teringat bebek cinta pertamaku dan kekasih cinta pertamaku. Aku benar-benar tersadar, bahwa aku selalu membandingkan ia dengan semua cowok setelahnya. Sudah lama, aku memarahi diriku karena tidak bisa berhenti dengan perbandingan ini, tapi ya tetap saja polanya akan berulang dan terulang, tidak bisa berhenti. Dan saat kami melintasi jembatan layang pasupati sambil bernyanyi Indonesia Raya (ini ide teh Nono, bahwa bernyanyi Indonesia Raya saat melewati jembatan layang Pasupati sangat menyenangkan dan ternyata benar, coba saja) aku teringat akan kebiasaan buruk kami di acara petualangan bebek ini, begini, kami pergi ke satu tempat baru, makan sambil membandingkannya dengan bebek cinta pertama lalu berkata kurang enak, kurang sreg dan besoknya kembali ke bebek cinta pertama lagi. Semakin sering kami mengunjungi tempat baru maka semakin sering pula kami kembali ke bebek cinta pertama, jadinya rasio perbandingan kami menemukan tempat baru dengan kami makan di bebek cinta pertama adalah 1:3 (yang satu lagi karena memang ada jadwal khusus). Nah… nah… semakin keras aku mencoba untuk bertemu cinta baru, cowok baru, maka semakin sering aku membandingkannya dengan kekasih cinta pertama, semakin keras aku berusaha melupakannya, maka semakin dalam ingatanku akan dia. Wah… kalau begini jadinya aku bisa beneran gila sebelum aku jatuh cinta ya…
Ya sutralah… sekarang, aku tidak usah terlalu keras berusaha… tapi teteup aja Chayo (bebek)!

PS. ini sebenernya pindahan dari blog yang ini, sengaja dipindahin biar kalian tahu (kalau ada yang baca tulisan ini maksud’e)kenapa sayah ngotot cinta sama Bebek Van Java 😀

2 thoughts on “Legenda Cinta dan Bebek Goreng”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s