Loli Poli Joli Holiday

Liburan tanggal 21 Maret kemaren, aku diajakin beberapa JSers Jakarta dan Bandung untuk ngumpul. sebagai new comer, tentu… aku semangat. Ada Laurentia, Siska dan Nat dari Jakarta, lalu Sienny, Tita (dan si kecil Lindri) kemudian aku.
Awal petualangan dimulai dengan sarapan di Warung Kopi Purnama di Jl. Alkateri. Serius, namanya Warung Kopi! Bahkan menurut Sienny yang merupakan ‘provokator’nya Purnama, pertama kali mencoba ke Purnama, dia agak hesitate, karena tempatnya yang di Alkateri dan pengunjung yang encek-encek. Namun, Sienny memang pejuang yang pantang mundur, saat ini dengan roti dadar ham-nya, Purnama merupakan salah satu tujuan ‘wisata’ JSers😀

Kami memilih:

  1. Roti dadar Ham: rotinya yang tradisional, tebel dan empuk memang yummy. Lebih yummy lagi kalau rotinya agak gosong, sesuai seleraku.
  2. Roti dadar sosis: aku kurang bisa ngebedain rasa sosis dan rasa ham-nya, hampir mirip menurutku🙂
  3. Nasi goreng Purnama: rasanya seperti nasi goreng kampung dengan bumbu rasa bawang yang lekoh, tapi enak kok, hanya kadar pedesnya mesti ditambah kalau menurutku.
  4. Bacang ketan: rasanya cukup chewy, daging b2-nya enak…🙂
  5. Untuk minum kami pesan Hot lemon tea, rasanya enak, asem manis. Hanya Siska yang pesan kopi, sesuai dengan tips dari Tita, menghindari rasa yang kemanisan, gula dipesan terpisah.

Yang menarik, di depan Warkop Purnama, ada banyak tukang jajanan, kemarin kami kehabisan bubur ayam yang jualan di depan (sebenernya di Purnama ada, tapi kurang greng rasanya), meskipun demikian, kami mendapatkan gantinya dengan beli jajanan pasar, ada:-

  1. Putu ayu: enak, sayangnya pisangnya kurang banyak, kecil, nyempil doang.
  2. Lupis ketan: manisnya pas. Recomended.
  3. Lontong oncom: ini juaranya! Oncomnya pedes, gurih, aku saking sukanya sampe nyocolin bacang ke oncomnya.

Total kerusakan di Warkop Purnama = Rp. 92,500 dan jajanan pasar = Rp. 11,500.

Setelah itu kita ke tukang cakue di Jl. Babatan, untuk berburu Kompiah, sayangnya sampai sana udah keabisan. Ya sudah.
Kemudian, menuruti informasi dari Sienny, kita mencari tukang risoles di Jl. Riau. Katanya, jualannya di depan distro, tapi dasar kita gak terlalu perhatian, sampe ujung Jl. Riau (dan bikin kita mampir di Bawean) tukang risolesnya gak ketemu. Makin gak ketemu, kita jadi terobsesi, tadinya Sienny yang kepengen, jadinya kita semua ikutan terobsesi, dan untuk menemukannya, kita jadi tebal muka, nanya ke semua orang, mulai tukang parkir, tukang jajanan, sampai spg. Ketika kami sudah mulai putus asa, ndadilalah… malah ketemu. Namanya De’Risol, jualannya di parkiran 18th park, depan RS Bersalin Limjati. Nggak rugi juga kita kesitu, risolesnya creamy dan gurih. Ada beberapa pilihan isi, yaitu: ayam, daging, sayuran, keju dan udang (khusus pesanan). Kami pesan yang ayam dan daging. Juaranya: yang ayam (Rp. 5,000/porsi – isi 2 Pcs) karena gurih dan creamy-nya pas. Sedangkan yang daging (Rp. 7,000/porsi – isi 2 Pcs) agak kemanisan.

Puas dengan risoles, kami meluncur ke Superindo di Dago, menjemput Tita. Sambil menyelam, kami beli siomay yang jualan di dekat pintu masuk. Recomended karena rasa ikan yang lekoh dan bumbu kacang yang cukup pedes.

Selesai dengan misi ‘menculik’ Tita, kami pergi untuk lunch di warung bu Imas di Jl. Dewi Sartika (sebernernya ada tiga tempat, tapi katanya disini yang paling lega). Standard warung makanan Sunda, kami pesan ayam bakar, ayam goreng, babat goreng, gepuk, tahu, pepes jamur. Dan seperti layaknya warung Sunda, complimentarynya adalah lalab, sambel leunca, sambel terasi dan juaranya sambel, sambel kemangi! Hati-hati dengan sambal ini, pedes buanget! Rasa iblis yang sangat dahsyat! Mendeskripsikan rasanya agak sulit, karena rasa cabe rawit yang puedes banget, ada rasa bawang dan sedikit nyegrak, mungkin dikasih gula putih sedikit, itu yang biasa kulakukan untuk bikin sambel yang ‘shocking’. Untuk menambah sedikit penjelasan mengenai kepedesan sambel kemangi, berikut adalah reaksi dari teman ‘seperjuanganku’:

  • Sienny: “Aduh, gw cuma nyolek sekali dan pedes banget, gw kasih kecap aja tapi emang gak diaduk sih” sambil bersimbah peluh.
  • Laurentia: “Langsung kerasa ke kepala pedesnya, kok jadi pusing yah” keringet ngucur
  • Nat: “emh… emh… ” (Nat, makan tespongnya ama sambel, aku) “ya… ntar.. duh… ya… ssssh pedes” (pedes ya? aku) “huh… hah…. sssshhh… pedes banget!”
  • Tita: “Pedes ya?” curang, ngga nyolek sedikit pun…
  • Siska: “Ati-ati… sambelnya emang edan, pedes banget, kayanya sambel bu Rudi juga kalah deh” huh, dasar… JSer, suka ‘ngadu-ngadu’😀
  • Aku: “Iya pedes banget! Juara!” sambil nyolek sambel terus “eh, sambel terasinya kok jadi manis ya?” langsung kesambit piring!

Tips: Jangan sekali-kali bawa pacar untuk mencicipi sambel ini, keringat yang ngucur gak karuan dan efek panik dari rasa pedes yang ‘shocking’ dijamin akan bikin image manis dan anggun yang dibangun dengan susah payah akan hancur dalam sekejab. Benar-benar not recomended untuk yang pacaran, apalagi yang baru jadian.
Serunya, ternyata gak semua meja dikasih komplimen sambel setan ini. Hanya meja kami bo! Entah kenapa, mungkin karena tampang kami yang seperti bisa menyantap apa aja ato karena tadi Sienny dan Laurentia yang sempet motret2 makanannya untuk diposting di MP.
Yang jelas, dengan kedahsyatan sambel kemangi ini, aku bakal balik lagi. Ini cocok juga untuk melampiaskan emosi. Daripada marah-marah gak keruan, mending makan pedes dan kalap ngabisin nasi… huehehehe. Dan pas makanan hampir habis, aku menemukan trik untuk mengurangi rasa pedes sambel ini yaitu dimakan bareng babat goreng! Serius, aku jadi bisa nambah sambel karena dimakan bareng babat goreng, rasanya lebih jinak.
Total kerusakan untuk momen panik itu cuma Rp. 77,000 untuk kita berenam. Wow, pelampiasan emosi yang murah meriah bahagia dan hati-hati sakit perut.

Setelah berpeluh ria, atas ide dari Sienny (memang, komandan ini banyak idenya, salut jendral!) kita mendinginkan perut ke Jl. Macan, ada tukang es langganan dia. Wah, seru, es cincaunya pake sirop rasa tradisional, meski enak, rasanya sedikit kemanisan, makanya kita tambahin sama es batu lagi. Es buahnya juga seger, manis asem gitu, dengan potongan buah melon, nanas, pepaya dan bengkuang. Ada kolak pisang juga, penampakan kolaknya agak kurang menggairahkan karena gula aren yang dipake. Tapi rasanya cukup sedap kok.
Sesudah cukup dingin, kami kemudian ke Ciwalk, hanya untuk jalan-jalan ajah, eh sempet beli kaos juga di Mahanagari, kaos yang Bandung Pisan! Dari situ kami ke Warung Laos, sore-sore asyiknya makan pizza manis – banana blackberry dan minum yang seger-seger biar adem, hayuk we… ngadem terus…
Untuk menutup petualangan, sebelum balik ke Jakarta, L, S dan N (waduh… kaya singkatan pejabat ajah…) mampir ke martabak Nikmat di Andir, ngebungkus buat dibawa pulang. Dan sebagai penghuni Bandung selama sepuluh tahun terakhir ini, aku cukup kaget ada martabak keju yang enak di Andir situ, padahal depannya kan pasar yang nggak banget. Thanks to Nat, buat paket icip-icipnya. Memang, yang rasa jagung manis juaranya, rasa manisnya agak tenggelam dengan rasa gurih keju, umh, aku pencinta keju kan… trus juara duanya yang rasa kismis, asem manis gurih. Rasa kacang merah enak juga, tapi compare sama dua rasa itu… kalah deh… Sayangnya, ada yang mengganjal dari rasa martabak itu, ada rasa obat yang mebayangi. Wah… mungkin karena jagung, kismis dan kacang merahnya dari produk kalengan ya? Mungkin.

JSers peternak naga udah bubar, tapi itu bukan berarti petualanganku sendiri sudah selesai. Hiya… hujan lagi… untung jam delapanan udah terang lagi, langsung bacut ke Dago, roti bakar di dekat Holiday Inn… umh…abisnya, rada malem jalan lagi ke C’Mar…
Whua… what a day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s