Catatan seorang demonstran

Ceritanya nih, hari -hari ini, aku dipenuhi tentang ide mengenai Soe Hok Gie. Mulai dari bukunya yang sudah beredar lagi, dan filmnya yang baru saja mulai main beberapa hari lalu.
Umh, jadi searching segala sesuatu tentang Gie… hehehe panggilan sayang…
Baru baca beberapa cuplikan mengenai Gie, dan hari ini ada kolom tersendiri mengenai Gie di Kompas, dengan ilustrasi gambarnya adalah Nicholas Saputra, yang secara mencengangkan bisa berubah jadi seperti Cina, ups… Nicholas Cina bukan sih?
Lalu, barusan searching di beberapa forum, ttg Gie, yang ditulis sama John Maxwell bahwa Gie, tidak banyak dikenal di Indonesia karena salah satunya adalah Gie itu orang Cina, umh… jadi memulai kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai orang asing.
Yang kjetangkep sama akulah, aneh kalo orang Cina cinta sama Indonesia… hehehehe kasar sekali ya…

Tapi topik ini sesuai sekali ma aku, beberapa hari ini, aku lagi pusing karena secara tiba-tiba aku diminta untuk presenting SBKRI dari ayahku… baru aku ingat kalo bapakku juga Cina, tapi aku gak sadar juga… karena aku lahir di Surabaya, ibuku suku jawa, yg bener2 jawa, bahkan menurutku, kerangka tubuhku tuh postur Homo Soloensis bgt deh… tapi ketika aku ingin buat paspor untuk warga negara Indonesia, aku dianggap bukan org Indonesia, karena masih harus mengajukan SBKRI.

Iya, aku tahu kalau hukum Indonesia itu membuat anak ikut warga negara ayahnya, tapi… aku tidak sadar kalau aku termasuk itu, karena aku gak sadar, sebab ayahku pun ternyata lebih Indonesia dibanding yg lain.
Rumit dan aneh… kalo aku dianggap warga negara asing, katakanlah Cina, trus apa kebanggaanku sebagai warga negara Cina? aku gak bisa bahasa Cina, bahkan hitungan angkanya pun aku cuma tahu cepek dan nopek, yah… dari bahasa gaul aku juga tahu ada goceng, seceng, noceng. standar banget. Aku berbahasa Indonesia, dan bercita-cita untuk membuat novel dalam bahasa Indonesia, yang baik dan benar, tidak banyak bahasa gaul seperti yang kugunakan jika ‘ngedumel’.

Yah… aku bisa apalagi kalau begini, mana katanya dulu SBKRI tak berlaku lagi bagi warga keturunan Cina (bagiku setengah darah Cina – bukan berkebudayaan Cina) yang sudah punya akte kelahiran dan ka te pe Indonesia, tak perlu lagi SBKRI ayah atau buyutnya… ah entahlah…

Seandainya bapakku bukan Cina.

(lhoh… dari Hok Gie kok jadi ke bapakku??!!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s