Pernikahan

Semalam aku berbicara panjang lebar dengan ibu temanku, Tante Melissa. Kami menceritakan seluk beluk, lika-liku pernikahan, panjang-lebar.Salah satunya ada satu cerita tentang seorang menantu wanita yang hidup bahagia dalam sangkar emas keluarga suaminya, namun enam tahun kemudian mereka bercerai justru karena hal itu. Si wanita, Elisabeth, merasa mertuanya dan suaminya Freddy terlalu over protektif padanya dan pada satu-satunya putri mereka, Ester.”Dulu pernah, suatu kali, Lisa bawa si Ester ke acara kantornya Lisa, meeting tahunan di Tanjung Lesung, tapi Freddy tidak ikut. Eh, kebetulan Ester kejeduk waktu berenang & digiti nyamuk, ketika Freedy dikasih tau hal itu, tau apa reaksinya? Dia marah besar, dan bilang ke Lisa, kenapa tidak bawa trombophob di perlengkapan P3K?” Tante Mel, diam dan mengambil napas sejenak. Dan memberiku kesempatan untuk mencerna sepotong cerita yang akan berlanjut itu. “Apa kamu terbayang, untuk hal yang sepele seperti itu, ketika sampai rumah mereka bisa berantem besar?!” tanya Tante Mel kemudian. “Akhirnya, Lisa memutuskan untuk berpisah dari suaminya, semua masalah terakumulasi. Soal perhatian yang berlebihan, hingga ke masalah finansial. Sepertinya keluarga mertuanya kaya, tapi masa – masa kejayaan itu sudah lampau dan problemnya mereka masih hidup di masa lalu… masih ingin kelihatan mewah, mempertahankan gaya hidup, maka tinggalah si menantu perempuan yang susah payah demi menyenangkan mertua yang sudah ‘menjaga’ dengan sangat perhatian. Tapi memang manusia ada batasnya.” Tante Mel terlihat sedikit emosional, aku maklum, Lisa memang part of her life jadi wajar kalau seolah-olah Tante Mel sendiri yang mengalami hal itu.
“Pernah suatu ketika Lisa, di tengah salah satu keputusasaannya bertanya pada Tante, memangnya, mana yang benar sih, aku yang dibesarkan dengan sikap keluarga yang cuek – cuek saja meskipun keras dan jadilah aku, atau Freddy yang terlalu berlimpah perhatian dan jadilah Freddy, dan sekarang Ester kami besarkan dengan cara seperti ini, cara mana yang benar?. Terus terang, Tante sedih waktu Lisa bertanya seperti itu, yah… sedikit nelongso kok jadinya begini. Orangtua hanya ingin, anak-anaknya bahagia. That’s it!. Kami tidak tahu mana yang benar mengenai cara membesarkan anak, kami hanya berusaha untuk berbuat yang terbaik. Mungkin memang, karakter orang tua kami dulu ikut mempengaruhi cara kami membesarkan anak-anak kami. Its already in our blood to have attitude like this.”
Mendengar & berbicara dengan Tante Mel, secara mengejutkan, aku teringat buku harianku sekitar 5 tahun silam, ketika itu aku baru beberapa bulan pacaran dengan Ken, dan kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku menulis begini:-Aku dan Ken adalah dua pribadi yang dibesarkan dengan dua kebudayaan yang sangat jauh berbeda, mungkin terlalu kompleks, tapi kalo dibilang sekedar kebiasaan atau sekedar cara hidup… itu terlalu sederhana, ya memang begitulah. Kami memiliki pola pikir yang sangat bertolak belakang bahkan dalam menyikapi problematika kehidupan yang kecil dan remeh. Aku yang besar dengan orangtua tunggal, hanya seorang Ibu yang memutuskan unuk tidak menikah ketika suaminya meninggal, dalam usia yang sangat muda Ibu menjadi Ibu sekaligus Ayah sekaligus pencari nafkah keluarga. Aku anak tunggal yang memiliki kebebasan penuh untuk memutuskan segala sesuatu, karena memang sudah dibiasakan begitu sejak kecil. Ibu ada di rumah hanya pagi dan malam, seharian beliau ada di luar untuk bekerja, dan sejak aku bisa mengingat, seingatku, aku selalu melakukan apapun sendiri. Pembantu, hanya memasak dan mencuci, tugas yang tidak bisa dilakukan anak unur lima tahun. Aku punya jadwal yang dibuat oleh Ibu dan kuturuti dengan kepatuhan yang menakjubkan untuk anak seusiaku, bahkan sampai sekarang aku sering berpikir… aku hebat juga ya : ) Aku tumbuh menjadi sangat mandiri dan egois. Sedangkan Ken, anak pertama dari lima bersaudara, meski sejak SMP kehilangan Ayah dan merubah dirinya menjadi penanggungjawab keluarga, tapi Ken bukan serta merta menjadi orang yang bisa memutuskan segala sesuatunya tanpa kerumitan. Njlimet. Dia terbiasa meminta pendapat, terbiasa memikirkan dulu adik-adik dan Ibunya, terbiasa ngalah. Dia jadi lupa bagaimana menikmati hidup. Kami selalu punya pendapat yang berseberangan tentang keluarga. Termasuk dengan cara pernikahan. Jadi apa yang bisa mempertemukan kami, jika kebudayaan kami berbeda, tidak ada sedikitpun kesamaan yang menjembatani. Dan setelah berusaha mencari titik temu, kami tidak bisa menemukannya? rumus apakah yang dapat mengeliminasi perbedaan – perbedaan kami? Maka, memang lebih baik kami berspisah.
Jadi, setelah bercakap-cakap dengan Tante Mel, aku membaca lagi uraian yang rumit di buku harianku itu. Lucunya, aku ingat betul saat itu aku sangat ingin berisah dengan Ken karena ‘kebudayaan’ itu tadi, dan ternyata sampai hari ini, lebih dari lima tahun kemudian aku masih bersama Ken.
Jadi, rumus apakah yang dapat mengeliminasi perbedaan – perbedaan kami? jawabnya cinta. Tapi apakah cinta saja cukup untuk menjawab seribu pertanyaan lain yang membayangi pernikahan kami yang akan berlangsung beberapa bulan lagi?
Terus terang, aku sangat takut & khawatir dengan rencana pernikahan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s