Dari Balik Jendela (1)

Dunia melihat kehidupan kami mendekati sempurna. Beberapa kawanku bahkan menyatakan secara langsung bahwa mereka iri dengan kehidupan yang kupunyai sekarang. Tentu saja, mereka menyatakannya dengan cara bercanda, malah kupikir pernyataan itu bentuk rasa sayang mereka terhadapku, jadi aku tak merasa marah atau pun kesal.

“Seneng ya, setelah sekian lama menunggu jodoh, akhirnya kamu ketemu jodoh yang betul-betul luar biasa, ya ganteng… ya mapan… dan sayang sama kamu”

“Syukurlah,” biasanya aku hanya menjawab begitu. Continue reading “Dari Balik Jendela (1)”